Saturday, January 11, 2014

Mencintai sejantan Ali



Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn 'Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka'bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu

"Allah mengujiku rupanya", begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti 'Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara 'Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; 'Utsman, 'Abdurrahman ibn 'Auf, Thalhah, Zubair, Sa'd ibn Abi Waqqash, Mush'ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti 'Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, 'Abdullah ibn Mas'ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan 'Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

'Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. "Inilah persaudaraan dan cinta", gumam 'Ali.

"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku."

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

'Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. 'Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah 'Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya 'Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, 'Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, "Aku datang bersama Abu Bakar dan 'Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan 'Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan 'Umar.."

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana 'Umar melakukannya. 'Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

'Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka'bah. "Wahai Quraisy", katanya. "Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang 'Umar di balik bukit ini!" 'Umar adalah lelaki pemberani. 'Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. 'Umar jauh lebih layak. Dan 'Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka 'Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran 'Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti 'Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi'kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya 'Abdurrahman ibn 'Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa'd ibn Mu'adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn 'Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

"Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?", kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. "

"Aku?", tanyanya tak yakin.

"Ya. Engkau wahai saudaraku!"

"Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?"

"Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!"

'Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

"Engkau pemuda sejati wahai 'Ali!", begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, "Ahlan wa sahlan!" Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

"Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?"

"Entahlah.."

"Apa maksudmu?"

"Menurut kalian apakah 'Ahlan wa Sahlan' berarti sebuah jawaban!"

"Dasar tolol! Tolol!", kata mereka,

"Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !"

Dan 'Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, 'Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

'Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, "Laa fatan illa 'Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!" Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti 'Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada 'Ali, "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda"

'Ali terkejut dan berkata, "kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?"

Sambil tersenyum Fathimah berkata, "Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu" ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.

Kemudian Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut."

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

"Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak." (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

Kisah Romantis ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
Chapter aslinya berjudul "Mencintai sejantan 'Ali"

Tuesday, January 7, 2014

Tadi, sehabis Sholat Maghrib, Saya teringat wejangan dari Almarhum KH. Zainuddin MZ. (Semoga Allah SWT memuliakaan Beliau ).

Kata Beliau bahwa semua orang Islam itu nanti akan masuk surga selama dia tidak menyekutukan Allah dan banyak bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Tapi sesuai dengan amal ibadah masing-masing, ada yang langsung ke Surga tapi ada juga yang harus mampir dan dibersihkan dulu di dalam Neraka ( Na'audzubillah ).

Kenapa kita perlu banyak bershalawat ke pada Rasulullah SAW ? Itu karena utk bisa masuk surga secara langsung ataupun spy bisa dikeluarkan dari neraka kita perlu syafaat dari Baginda Nabi.

Banyak orang yg salah mengartikan Syafaat tsb. Sehingga mereka sama sekali tidak merasa perlu melakukan amal ibadah selama di dunia karena toh nanti tetap akan diberi syafaat juga oleh Baginda Nabi dan pasti masuk surga juga.

Apakah benar demikian ?

Syafaat menurut KH. Zainuddin MZ, bisa diumpamakan sepotong kain yang robek dan bolong2. 

Kain tsb sebenarnya merupakan perwujudan dari akumulasi amal ibadah yang selama ini kita kerjakan yang meliputi Sholat kita, Puasa kita, Zakat kita, Shadaqah kita, pahala kita menolong orang lain, santunan kita thd anak yatim dan fakir miskin serta ibadah2 lainnya. 

Tapi karena kadang2 ibadah kita tsb terselip sedikit perasaan riya, sombong, kurang ikhlas, Kurang khusuk ataupun kekurangan2 yg lain, maka akhirnya potongan kain yg kita punya itu tidak utuh dan bolong2. 

Nah...disinilah peran Syafaat baginda Nabi kelak yang dengan Syafaat tsb Beliau akan menambal kain kita tsb sehingga tidak lagi sobek dan bolong2 dan akan menjadi sebuah kain yang utuh dan indah sbg syarat kita bisa masuk ke Surganya Allah SWT.

Masalahnya kalau kita selama di dunia ini tidak pernah atau malas melakukan amal kebajikan, melalaikan Sholat, tdk puasa, tdk berzakat, malas Shodoqah, tdk perduli sama kesusahan tetangga dll. Maka kita tidak akan pernah memiliki sepotong kain. 



Nah kalau kita kain nya aja tidak punya ? Terus Baginda Rasulullah menolong kita dengan cara apa ? Bagaimana Beliau mau menutupi, memperbaiki dan menyempurnakan kain kita dengan Syafaat? Kalau kita punya kainnya aja nggak....

Untuk itu...mari saudara2 ku semua. Kita bertekad mulai sekarang, Mari bersama2 kita tingkatkan amal ibadah kita. Tidak ada kata terlambat dalam beribadah dan memulai hal2 yang baik.

Jangan tinggalkan kewajiban kepada Allah SWT. Apalagi Sholat....... Karena amal ibadah yang pertama kali dihisab di hari kiamat nanti adalah sholat. Jika sholat kita baik maka akan baiklah seluruh amal kebajikan kita yang lain. Tapi apabila sholat kita tinggalkan maka akan ikut rusak juga amal2 ibadah yang lainnya dan tdk akan diperhitungkan oleh Allah SWT.

Semoga wejangan dan nasehat dari Almarhum KH Zainudddin MZ ini bisa menjadi pengingat bagi kita utk selalu menunaikan kewajiban kita kepada Allah dan pemberi semangat utk berlomba2 memperbanyak amal kebajikan.

Mohon perbaikan dan koreksinya apabila dalam sharing ini ada kesalahan dalam menyampaikan kembali wejangan dari Bpk. Ustadz Zainuddin MZ, Almarhum. Karena cerita ini murni berdasarkan ingatan ketika mendengarkan Tausiah Beliau beberapa tahun yg lalu.

Moga aja bisa bermanfaat buat kita bersama, Aamiin.

Monday, January 6, 2014

Cerita Anak Kecil Melawan SetanCerita Anak Kecil Melawan Setan - Adzan maghrib pun berkumandang dengan merdunya. Seperti biasa, Salim anak TK yang masih berumur 5 tahun itu pun langsung bergegas ke Masjid untuk sholat maghrib berjama'ah sekaligus ngaji seusai sholat dengan Pak Ustadz di Masjid.

Selepas mengaji, Salim pulang sendirian karena teman temannya sudah lebih dulu pulang. Pas melewati depan rumah kosong (suwung tak berpenghuni) Salim terdiam sejenak, langkahnya langsung terhenti ketika didepannya terlihat bayangan putih menghalangi jalannya.


Salim takut dan bingung, mau balik lagi ke masjid jaraknya sudah cukup jauh, mau pulang didepannya ada bayangan putih menyerupai mbak kunti dan menghalanginya. Dalam kekalutan hatinya, Salim ingat pesan Abahnya. "Lim, manusia itu tidak boleh takut sama syetan. Kalau ada syetan, kamu bacain doa saja pasti syetannya kabur."

Akhirnya dengan keberanian yang dikumpulkan Salim pun membaca doa sebisanya dengan berteriak keras, kebetulan barusan di masjid diajarin Ustadz baca doa :



"ALLOHUMA BALIKLANA PIMA LOZAKTANA WAKINA ADAA BANNAL"
(maklum anak kecil, jadi agak cedal)

Tanpa diduga, ternyata benar bayangan putih itu alias mbak kunti pun langsung kabur dan sambil ngedumel sendiri :

"BUSYET DAH, SEUMUR UMUR JADI SYETAN, BARU SEKARANG GUA MAU DIMAKAN SAMA ANAK KECIL"


Baca Selengkapnya (http://al-syahbana.blogspot.com) - TAMPILKAN SELALU LINK SUMBER : http://al-syahbana.blogspot.com/2013/05/cerita-anak-kecil-melawan-setan.html#ixzz2pdD5NbjA
5 PERKARA YANG PERLU DILAKSANAKAN DENGAN SEGERA.

Agama islam mengajarkan bahwa di dalam melaksanakan setiap pekerjaan hendaklah dilakukan dengan penuh hati-hati dan perhitungan, sebagaimana kata pepatah, "di dalam keberhati-hatian itu ada keselamatan, dan di dalam sikap tergesa-gesa biasanya mengandung penyesalan."

Akan tetapi ada 5 perkara yang memang harus dilaksanakan dengan segera, yaitu:

1. Sholat apabila sudah tiba waktunya.

2. Mengubur jenazah.

Tidak baik menyemayamkan jenazah sampai dua atau tiga hari di rumah. Dan yang lebih baik mengubur jenazah itu adalah di tempat dimana ia meninggal. Contohnya Rasululluah SAW, meskipun beliau lahir di tanah Mekkah, lalu beliau wafat di Madinah, maka beliau dimakamkan di Madinah, karena pada prinsipnya agama memberikan kemudahan.

3. Menikahkan anak perempuan.

Apabila anak perempuan meminta untuk dinikahkan, dan umurnya pun sudah memasuki ambang pintu untuk menikah, maka segeralah orang tuanya menikahkan anaknya.

4. Membayar hutang.

Apabila sudah ada uang untuk membayarnya, maka segeralah dibayar, untuk mencegah kemungkinan akan digunakannya uang tersebut untuk kepentingan lain, sehingga hutang teruslah menjadi hutang.

5. Bertaubat apabila mengerjakan perbuatan dosa.




Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah, Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali - Imran: 135).

Rasulullah SAW bersabda, "setiap anak Adam pasti mempunyai dosa dan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang mempunya dosa dan kesalahan adalah orang yang segera bertaubat." (Mutafaqun alaih)

Semoga ALLAH senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus, jalan yang diridhai-Nya, dengan penuh hikmah dan hidayah sehingga kita mampu mempertahankan iman dan takwa kita kepada ALLAH SWT. Aamiin.

Thursday, January 2, 2014

"20 SUNNAH RASUL YANG SERING KITA ABAIKAN"

1. Mendahulukan kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya.

2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu' walaupun tidak sedang mengerjakan sholat.

3. Bersiwak (Menggosok Gigi dengan Kayu Siwak).

4. Shalat Istikharah

5. Berkumur-Kumur Dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu Cidukan Telapak Tangan Ketika Berwudhu'

6. Berwudhu Sebelum Tidur Dan Tidur Dengan Posisi Miring Ke Kanan.

7. Mendahulukan Berbuka Puasa Dengan Makanan Ringan dan yang manis. Dianjurkan kalau ada dengan makan buah kurma.

8. Sujud Syukur Saat Mendapatkan Nikmat Atau Terhindar Dari Bencana atau musibah.

9. Tidak suka Begadang Dan Segera Tidur setelah Selesai Shalat Isya'

10. Mengikuti Bacaan Muadzin (adzan)

11. Berlomba-Lomba Untuk MengumandangkanAdzan, Bersegera Menunaikan Shalat, Serta Berupaya Untuk Mendapatkan Shaf Pertama.

12. Meminta Izin Tiga Kali Ketika Bertamu (dengan ucapan Assalamu'alaikum)

13. Mengibaskan Seprei Saat Hendak Tidur (dengan maksud agar tempat tidur kita tidak kotor)

14. Meruqyah Diri Dan Keluarga

15. Berdoa Saat Memakai Pakaian Baru


16. Mengucapkan Salam Kepada Semua Orang Islam Termasuk Anak Kecil (jika berpapasan atau bertemu)

17. Berwudhu' Sebelum Mandi Besar (Mandi Junub)

18. Membaca ‘Aamiin’ Dengan Suara Keras Saat Menjadi Makmum

19. Membaca dzikir Setelah Shalat

20. Membuat Pembatas (ada tenggang waktu) Saat Sedang Shalat Fardhu Atau Shalat Sunnah

::- AMALAN DI MALAM JUM'AT & HARI JUM'AT -::

♥- MARI Saling mengingatkan dalam KEBAIKAN -♥
::- AMALAN DI MALAM JUM'AT & HARI JUM'AT -::

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum'at dan malam Jum'at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Al Baihaqi, shahih).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi, shahih).

Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya, disebutkan dalam hadits shahih, adalah :

Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad, kamaa shallaita 'alaa Ibrahim wa 'alaa aali Ibrahim, innaka Hamiidum Majiid. Allahumma barik 'aala Muhammad wa 'alaa aali Muhammad, kama baarakta 'alaa Ibrahim wa 'alaa aali Ibrahim, innaka Hamiidum Majiid.

Mari kita amalkan. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya. Aamiin.

Air Mata yang Memadamkan Api Neraka

Air Mata yang Memadamkan Api NerakaKita sebagai Umat RasulullahSAW, ada yang masuk ke dalam Neraka. Meski begitu, umat islam akan mendapat Syafa'at dari Rasulullah SAW, maka tak heran bila Rasul kita selalu membela dengan segenap kekuatan untuk menghalau api neraka yang akan membakar umatnya.

Sungguh sangat besar cintanya Rasulullah SAW kepada umatnya. Bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW akan meningal dunia, umatnyalah yang selalu ditanyakan kepada Malaikat Jibril dan Malaikat Pencabut Nyawa.


Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa kelak pada hari kiamat setiap orang akan disibukkan dengan persoalan dirinya sendiri, termasuk para nabi. Ketika mereka dimintai pertolongan, mereka menyatakan nafsi-nafsi (sendiri- sendiri). Kecuali nabi teristimewa, yaitu Nabi Muhammad SAW. Dalam kondisi sulit itu, beliau terus berjuang dan berusaha untuk menyelamatkan
umatnya. "Ummati...Ummat i..., bagaimana halnya dengan umatku, selamatkan umatku....selam atkan umatku....," ucap Rasulullah SAW berkali-kali.


Gejolak Neraka Jahannam. Ketika penghuni neraka digiring menuju neraka, keluarlah gejolak api neraka Jahannam, bergulung-gulung menyambar-nyambar. Ketika ia bergulung-gulung hendak menyambar umat Muhammad, tiba-tiba Malaikat Jibril berteriak.

"Awas..sambaran api menuju umat Muhammad," teriak Malaikat Jibril seraya membawa semangkuk air. Maka, dengan secepat kilat Nabi Muhammad SAW meraih air yang ada di tangan Malaikat Jibril. Malaikat Jibri berkata, "Cepat Muhammad, cepat Muhammad!" Air Mata sebagai Pemadam.

Segera saja Rasulullah SAW menyiramlan air itu pada api Neraka Jahannam yang menyambar-nyambar hingga menjadi padam seketika.
Setelah gejolak api itu padam dan surut kembali ke tempat asalnya,

Nabi Muhammad SAW bertanya, "Wahai Jibril, air apakah itu?" "Itu adalah air mata umatmu yang menangisi dosa-dosanya karena takut kepada Allah SWT," jawab Malaikat Jibril.
Oleh karena itu, para sahabat yang seiman, deraikanlah dan alirkanlah air mata hingga membasahi pipi atau tumpahkanlah air mata di atas sajadah ketika membaca Al-Qur'an atau pada saat sujud karena takut kepada Allah SWT.

Wallahu’alam bishshawab, ..Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ....


Baca Selengkapnya (http://al-syahbana.blogspot.com) - TAMPILKAN SELALU LINK SUMBER : http://al-syahbana.blogspot.com/2013/02/air-mata-yang-memadamkan-api-neraka.html#ixzz2pFmirWJW

Cerita Hikmah: Perjalanan Seekor Burung Pipit

Cerita Hikmah: Perjalanan Seekor Burung PipitCerita Hikmah: Perjalanan Seekor Burung Pipit - Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.


Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.


Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki-maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan
mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia akan mati karena tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puas-puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.


Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

***

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran, diantaranya :
1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
5. Waspadalah terhadap orang yang memberikan janji yang berlebihan.


Baca Selengkapnya (http://al-syahbana.blogspot.com) - 

Hadiah Terbaik Dan Terburuk (Cerita Hikmah)

Seorang ibu yang dermawan telah menghadiahkan seekor kambing kepada Luqman al-Hakim. Ibu itu berpesan, "Sembelihlah kambing ini dan berikan saya bagian yang terburuk darinya untuk saya makan." Setelah disembelih, Luqman mengirim hati dan lidah kambing kepada ibu itu.

Hadiah Terbaik Dan Terburuk (Cerita Hikmah)
Beberapa hari kemudian , ibu itu sekali lagi menghadiahkan seekor kambing. Kali ini dia berpesan agar dikirimkan bagian yang terbaik dari kambing itu. Setelah kambing disembelih, Luqman mengirim hati dan lidah juga kepada ibu yang dermawan itu.

"Mengapa mengirimi saya lidah dan hati ketika saya meminta bagian yang terburuk, dan dikirimkan bagian yang sama ketika saya memesankan bagian yang terbaik? "tanya ibu tersebut kepada Luqman.

Luqman menjawab, "Hati dan lidah amatlah baik ketika ia baik dan menjadi buruk ketika keduanya buruk." Mendengar jawaban tersebut, mengertilah ibu itu akan maksud Luqman. Hati dan lidah itu adalah tunjang segala kebaikan dan juga ibu kejahatan dan keburukan.


Baca Selengkapnya (http://al-syahbana.blogspot.com) - TAMPILKAN SELALU LINK SUMBER : http://al-syahbana.blogspot.com/2013/02/hadiah-terbaik-dan-terburuk-cerita.html#ixzz2pFjtfEcz
Ketika Nabi Muhammad Diberi Jeruk LimauKetika Nabi Muhammad Diberi Jeruk Limau - Suatu hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam didatangi oleh seorang wanita kafir.
Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya. Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam seulas demi seulas dengan tersenyum.

Biasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda.

Sahabat-sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu. Lalu mereka bertanya.

Dengan tersenyum Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan “Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengenyitkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya.”


Begitulah akhlak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula.

Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya di’tewas’kan oleh akhlak mulia Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Semoga kita bisa memaknai cerita ini dan bisa untuk terus berbenah diri.

Subhanallah

Wednesday, January 1, 2014

MAKNA SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH 

SAKINAH, ialah ketika kita melihat kekurangan pasangan namun mampu menjaga lidah untuk tidak mencela

MAWADDAH, ialah ketika kita mengetahui kekurangan pasangan namun mampu memilih untuk menutup sebelah mata atas kekurangannya dan membuka mata yang lain untuk berfokus pada kelebihannya.

Sedangkan RAHMAH itu ialah, ketika kita mampu menjadikan kekurangan pasangan sebagai ladang amal untuk diri kita.

Subhanallah..